Mengenal 10 HUkum/Firman Allah (Bag 1)


30 Juni 2022

  1. Makna Hukum

Orang Yahudi menggunakan kata ‘HUKUM’ dalam 4 kategori :

  1. Hukum adalah 10 firman Allah

  2. 5 kitab pertama / pentateukh. Isi dari 5 kitab tersebut merupakan hukum yang sangat penting di dalam kehidupan orang Yahudi

  3. Kitab hukum dan para nabi yang menjadi seluruh kitab suci

  4. Hukum lisan dan atau hukum tertulis

Dalam pembahasan kita sekarang, kita hanya akan mendalami pengertian butir a, sebagaimana orang seringkali mempertentangkan antara Hukum Perjanjian Lama (dhi. 10 Firman Allah) dengan Hukum Perjanjian Baru ( Hukum Kasih yang disampaikan oleh Yesus dalam pengajaranNya). 

  1. Dasar Penyampaian 10 Firman

Umat Israel telah menjadi bangsa budak di Mesir selama kurang lebih 430 tahun. Allah tidak membiarkan mereka. Allah menyelamatkan, membebaskan dari perbudakan. Dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka. Namun perubahan status ini tidak serta merta diiringi perubahan mentalitas. Hal ini tentu dapat dipahami karena mental budak sudah mendarah daging dan terwarisi dalam sikap maupun budaya hidup mereka. 

Ketika Allah menyelamatkan, Allah hendak menunjukkan karya yang menyeluruh, artinya perubahan dalam keadaan fisik (menjadi bangsa merdeka) dan perubahan dalam mental (hidup tidak dengan ketakutan tetapi dengan kasih dan persekutuan yang erat dengan Allah). Bahkan Allah memberikan identitas baru kepada bangsa Israel yaitu sebagai harta kesayangan Allah, kerajaan imam, bangsa kudus (Kel 19:3-6).  Inilah yang diterima bangsa Israel sebelum mereka menerima 10 firman (Kel 20). Apa artinya? Tanpa identitas yang baru, tanpa mentalitas yang diubahkan, bangsa Israel tidak dapat memahami 10 firman dengan benar, karena mereka akan membacanya dari sudut pandang budak,peraturan yang mengekang dan menekan, mengambil harkat hidup kemanusiaan. 

10 firman Allah diawali dengan kalimat “Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel 20:1-2). Maksud dari perkataan ini adalah untuk menegaskan bahwa:

  1. Keselamatan orang Israel bukan terjadi karena kekuatan manusiawi mereka atau kebodohan orang Mesir. Orang Israel dapat bebas/diselamatkan adalah karena kuasa Tuhan Allah.

  2. Penggunaan kata “Akulah..” hendak menunjukkan bahwa Allah yang berinisiatif. Inilah karya dan rencana ilahi bagi manusia.

10 firman Allah yang disampaikan di Gunung Sinai melalui Musa sebenarnya inti dan dasar dari semua hukum serta merupakan pokok dasar yang luas. Dengan keluasan firman yang Allah berikan, Ia menginginkan agar umat yang sudah dibebaskan, dengan penuh kerinduan dan keterbukaan mencari kehendak Allah, apa yang berkenan kepada Allah. Di dalam pencarian kehendak Allah ini, terkandung pula penyerahan diri untuk dibimbing dalam hikmat Allah sehingga dapat memahami dan menerapkan di situasi kehidupan masing-masing pribadi.

  1. Sepuluh Firman Allah

Makna Firman Pertama Hingga ke Empat (vertical)

Jika kita membaca firman yang pertama hingga keempat, kita dapat melihat bahwa ini berbicara mengenai relasi antara umat dengan Allah. Di dalam keempat firman ini, Allah menyatakan kehendakNya secara jelas untuk diberlakukan dalam kehidupan umatNya, sehingga dengan demikian nampaklah perbedaan antara umat Allah dan mereka yang bukan menjadi umatNya.

Firman pertama: Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu

Pengertian ‘allah lain’ di sini hendak menunjuk kepada sesuatu atau beberapa hal yang disembah / ditakuti / dipercaya memiliki kekuatan dan kuasa, di luar Allah yang Hidup. Sesuatu tersebut dapat berupa bagian-bagian dari alam ciptaan Tuhan, ataupun benda-benda materi yang merupakan ciptaan manusia. Benda-benda ini sebenarnya tidak memiliki kuasa apapun, namun manusia memberikan nilai yang berlebihan dan menganggap amat penting. Yang sebenarnya ditampilkan pada pemujaan pada ‘allah lain’ ini adalah sentralisasi pada keinginan manusia, menganggap benda-benda yang ‘di-per-‘allah’ dapat memenuhi segala keinginan manusia. Ketika terjadi pemujaan, manusia sebenarnya terikat lahir batin. 

Maksud Allah menyatakan firman ini supaya bagi umat, hanya ada Allah yang telah membuktikan kasihNya melalui pembebasan dari perbudakan, Allah yang Esa (Ul 6:4), satu-satunya yang patut disembah, dipuji dan dimuliakan. Allah yang berkuasa untuk membebaskan. Jiwa dan hidup umat tidak terikat oleh benda-benda/hal duniawi/ciptaan yang terbatas, karena jiwa dan hidup kita telah menjadi milik Allah yang Maha Kuasa dan Tidak Terbatas.  

Firman kedua: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun;… Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya

Manusia cenderung menginginkan sesuatu yang tampak nyata, bisa dilihat, dipegang dan diraba. Bahkan tidak jarang, memberikan label ‘keramat’ pada benda tertentu. Oleh karena itu, Allah memperingatkan dengan keras agar umat tidak terbawa kebiasaan bangsa-bangsa di sekitar mereka yang menggambarkan sesembahan mereka dalam bentuk-bentuk nyata. 

Dalam kehidupan saat ini, umat Kristen juga harus mewaspadai kehidupannya. Memang kita tidak membuat patung tetapi jika kita memperlakukan Alkitab, tanda salib sebagai jimat, mampu melindungi, merasa tenang jikka sudah membawa/berada di dekatnya, maka kitapun sedang melanggar firman kedua ini. Ingatlah bahwa semua benda dan barang-barang di dunia ini hanya sekedar sesuatu yang bersifat materi.

Firman ketiga: Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan

Allah yang lebih dahulu memperkenalkan Diri kepada manusia, sehingga manusia dapat mengenal Allah. Kel 3:14, ketika Allah menyatakan diriNya kepada Musa, Ia mengatakan “AKU ADALAH AKU” atau jika mengambil terjemahan langsung dari bahsa Ibraninya dapat diartikan sebagai “Aku Hadir dan Berbuat”. Ke-Allah-anNya justru nampak dalam tindakan dan kehadiranNya di tengah kehidupan umat. Nama Allah tidak boleh dijadikan mantera untuk memaksaNya mengabulkan permintaan umat.

Firman keempat: ingatlah dan kuduskanlah hari sabat …

Ada dua aspek yang terkandung dalam firman ini. Aspek yang pertama adalah aspek religious. Allah yang telah memberikan kesempatan hidup pada manusia, termasuk di dalamnya kesempatan untuk bekerja. Tetapi hidup manusia bukanlah dikuasai dan mengejar pekerjaan. Mari melihat bahwa baik pekerjaan maupun istirahat adalah anugerah Allah. Terlebih, penuturan kisah penciptaan pada Kejadian 1 – 2:3 menyatakan bahwa pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan. Aspek yang kedua adalah aspek sosial. Pengertian SABAT adalah hari perhentian Tuhan, yang berarti suatu panggilan agar manusia hidup menurut perikemanusiaan. Inilah hari istimewa bagi kita untuk menjalin relasi dengan Allah dan sesama melalui ibadah, untuk memupuk hubungan kasih persaudaraan dengan anggota keluarga, persekutuan umat dan sesama masyarakat. 

 

 


Download PDF