Mengenal 10 HUkum/Firman Allah (Bag 2)


07 Juli 2022

Makna Firman Kelima Hingga Kesepuluh (horizontal)

Mulai dengan firman yang kelima, Allah ingin menyatakan bahwa relasi umat dengan Allah menjadi berarti jika dinampakkan dalam kehidupan dengan sesama. 

Firman kelima: Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu

Firman kelima ini mengingatkan kewajiban untuk memperhatikan, menghormati dan memelihara orang tua, apalagi ketika mereka telah menjadi tua dan tidak dapat bekerja lagi. Adanya firman ini tidak berarti dapat dimanfaatkan para orang tua untuk ‘menekan’ anaknya. Justru di sini merupakan panggilan bagi setiap orang tua maupun anak untuk membangun relasi yang kuat, memnciptakan suasana hormat menghormati antar pihak. 

Firman keenam: Jangan membunuh

Prinsip firman ini adalah bahwa Tuhan Allah adalah Sang Pemberi Kehidupan, sehingga hanya Allah saja yang berkuasa atas kehidupan. Nah, tapi mungkin kita membaca dalam Perjanjian Lama, bahwa Allah yang mencurahkan air bah sehingga yang selamat hanyalah Nuh dan keluarganya atau perintah kepada umat Israel untuk menghabisi lawan mereka. Apakah Allah mengingkari firmanNya sendiri? Dalam hal ini, kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta Kehidupan-lah yang berlaku. Bahwa Ia menginginkan kekudusan umatNya, yang kudus tidak bisa bersatu dengan yang tidak kudus, sehingga yang tidak kudus haruslah disingkirkan agar tidak mencemari umat Allah. Dalam perjanjian Lama, status umat Allah adalah eksklusif menjadi milik Israel. Namun dalam kacamata Perjanjian Baru, status umat menjadi terbuka bagi siapa saja yang mau percaya dan hidup di dalam Dia. Sehingga peranan umat bukan menyingkirkan melainkan bagaimana memberikan teladan di tengah bangsa yang tidak kudus di hadapan Allah. Oleh karena itu, makna firman keenam inipun, bukan sebatas hanya mematikan fisik orang. Tetapi ‘kemarahan’ sebagai peledakan kebencian dan menimbulkan permusuhan dianggap sebagai pembunuhan (Mat 5:21-22)

Firman ketujuh: Jangan berzinah

Maksud utama dari firman ketujuh ini adalah melindungi kebahagiaan pernikahan dan keluarga. Alkitab menunjukkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci (sacral), sehingga perzinahan dianggap sebagai penodaan terhadap kesucian. Ini adalah panggilan bagi setiap umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kesucian.

Firman kedelapan: Jangan mencuri

Pencurian yang dimaksudkan di sini memiliki arti yang luas. Bukan terbatas pada benda/material, melainkan termasuk juga mengenai hak hidup sesama.  Pemahamannya adalah bahwa segala yang disebut sebagai ‘milik’ dalam kehidupan ini adalah milik Tuhan. Tuhan mempercayakan kepada umat untuk mengelolanya. Sehingga ketika terjadi pencurian, maka pada hakikatnya menjadi tindakan yang mengambil milik Allah sendiri.

Firman kesembilan: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu

Allah ingin menghalangi terjadinya tuduhan-tuduhan palsu yang dapat dilontarkan oleh para saksi mengenai suatu peristiwa. Hidup yang benar di hadapan Allah adalah hidup yang jujur. Sebab itu, Yesus berkata “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; dst” (Mat 5:37). Kebenaran harus merupakan kritik yang manusiawi untuk membangun dan menyadarkan orang lain. Kebenaran tidak boleh bertentangan dengan kasih. 

Firman kesepuluh: Jangan mengingini … apapun yang dipunyai sesamamuInti firman kesepuluh ini mengenai keinginan yang melanggar batas. Allah menunjukkan betapa bahayanya membiarkan nafsu mengingini tanpa batas. Hal ini akan merusak kehidupan masyarakat, menghancurkan kehidupan dan nilai-nilai hidup manusia. Firman ini tidak pernah melarang manusia untuk memiliki hal-hal yang ada, yang dipersoalkan adalah caranya

 


Download PDF