Walk By Faith Not By Sight


14 Juli 2022

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2Kor 5:7).

 

Frasa Walk by Faith not by sight, adalah sesuatu yang familiar bagi orang percaya. Dan kita pun juga sudah mengerti secara pengetahuan, bahwa Allah berkerja melampaui dari apa yang sekedar kita lihat. Allah punya cara tak terbayangkan dalam menunjukan karya Nya. Tetapi sudah menjadi lumrah bahwa kita terjebak pada pertanyaan mungkin atau tidak mungkin terhadap sesuatu hal yang belum pernah kita alami. 

 

Pada perikop kita kali ini, kita akan menyelami karya Allah melalui sudut pandang Maria. Seperti yang dituliskan, kita mengetahui bahwa Maria adalah perempuan yang sudah bertunangan dan “perawan” (baca: belum menikah) (bdk. 1:27). Maria bertunangan dengan Yusuf, yang memiliki garis keturunan dari keluarga Raja Daud. Dalam tradisi Yahudi, pertunangan merupakan tahap pertama perkawinan. Dalam tahap ini mas kawin sudah dibayarkan kepada mempelai perempuan. Meski secara legal sudah sah sebagai sebuah pasangan, mempelai perempuan masih tinggal di rumah orang tuanya dan tidak tinggal bersama-sama dengan mempelai pria. Biasanya, perkawinan akan dilaksanakan setahun setelah pertunangan dan barulah kedua mempelai bisa tinggal bersama.

 

Pada perikop ini Malaikat Gabriel mendatangi perawan Maria yang bertunangan dengan Yusuf, dengan berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Dalam bahasa Yunani, kata perawan berarti ‘gadis muda yang belum kawin’. Di kalangan bangsa Israel, perempuan yang sudah bertunangan dapat disebut isteri dari tunangannya. Jadi sudah ada ikatan yang kuat dan resmi, namun keduanya belum hidup sebagai suami isteri. Secara harfiah kata Yunani untuk salam artinya ‘bergembiralah, berbahagialah.’ ‘Engkau yang dikaruniai’ sama artinya dengan ‘engkau yang diberkati’.

 

Respons Maria pertama kali adalah terkejut, karena tidak mengerti apa arti perkataan malaikat itu. Namun malaikat itu segera menenangkan Maria dengan berkata, ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus ...”(Luk. 1:30-33). Maria beroleh kasih karunia Allah, artinya Allah mengasihi Maria dan mau memberikan rahmat-Nya kepada Maria. Rahmat Tuhan begitu besar karena Maria akan mengandung Putra Allah yang Mahatinggi yang kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Maria mendapat kehormatan besar dari antara segala perempuan.

 

Menanggapi berita besar dari Tuhan ini, Maria mengajukan pertanyaan yang wajar ditanyakan karena ia belum bersuami, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Kemudian Malaikat Gabriel menegaskan kepada Maria bahwa “Roh Kudus akan turun atasmu…” Artinya peristiwa besar ini terjadi karena karya Roh Kudus, bukan oleh karena perbuatan manusia. Malaikat itu juga memberitahukan bahwa Elisabet saudaranya yang sudah lanjut umurnya sedang mengandung di bulan keenam. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Maria diyakinkan bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah, hal itu terbukti dengan kabar mengandungnya Elisabet. Secara tersirat mau dikatakan bahwa jika Elisabet bisa mengandung, tentunya hanya karena rahmat Tuhan saja. Jika Tuhan mau berkarya atas manusia, tentunya tidak ada yang dapat menghalangi rencana-Nya.

 

 

Respons Maria selanjutnya sangat berbeda dengan Zakharia yang tidak percaya. Maria percaya dan menyerahkan diri pada rencana Tuhan dengan berkata, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Dengan kata lain keraguannya sirna, ia siap mengabdi pada Tuhan dan membiarkan kehendak Tuhan yang jadi pada dirinya

 

 

Maria si Pahit mengajarkan kita apa itu beriman ! Iman dibentuk dalam rasa percaya, bahwa di dalam Tuhan tidak ada yang tidak mungkin ! Konsep inilah yang membentuk Maria dalam peristiwa ini. Ketika Maria menyadari Tuhan memberi anugerah kepadanya, sebagai wujud rasa syukurnya dia memposisikan diri sebagai seorang hamba dan berserah pada kehendak Tuhan saja. Karena Ia mau belajar percaya Tuhan pimpin langkah-Nya !


Download PDF