DIA ALLAH YANG HIDUP
04 November 2022
Tuhan bukanlah Tuhan orang mati.” Ini tidak berarti bahwa Tuhan acuh tak acuh terhadap manusia yang sudah mati. Tuhan tidak melupakan mereka. Sebaliknya, dalam hubungannya dengan Tuhan, kematian adalah musuh, dan mengatasi kematian bagi Tuhan sama pentingnya dengan mengalahkan dosa. “Di manakah, hai maut, kemenanganmu? Di manakah, hai maut, sengatmu?” (1 Kor. 15:55) Dengan kata-kata ini, Paulus bersukacita dengan rasa syukur atas kemenangan Allah dalam Yesus Kristus atas kuasa maut. Namun, pernyataan Paulus tidak dimaksudkan untuk mendukung gagasan bahwa kematian tidak benar-benar ada atau bahwa ada kelanjutan hidup kita setelah kematian kita. Sebaliknya, kita harus menganggap serius apa yang dikatakan Tuhan yang hidup dalam Wahyu 1:18: “[Akulah] yang hidup. Saya telah mati, dan lihat, saya hidup selama-lamanya; dan aku memiliki kunci Kematian dan Hades.” Kunci-kunci ini hanya ada di tangan Tuhan dan tidak pernah ada di tangan kita. Jika kita adalah pengikutnya, maka kita mengikuti orang yang memiliki kunci-kunci ini di tangannya.
Pada hari Minggu ini, Bacaan Injil menunjukkan pertanyaan orang Saduki kepada Yesus terkait perkawinan levirat yang dikaitkan dengan ketidakpercayaan kelompok ini terhadap kebangkitan. Pertanyaan yang diajukan menimbulkan kesan ejekan atau olok-olok terhadap pandangan kelompok lain yang percaya pada kebangkitan. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan berbicara tentang Allah orang yang hidup untuk menyudahi pertanyaan yang mengejek itu. Demikian juga dengan Ayub yang harus mengalami hinaan dan ejekan karena keadaannya yang sedang berada dalam penderitaan yang dalam. Dalam pergumulannya, Ayub membuat pernyataan keyakinannya akan Allah sebagai Penebusnya yang hidup di tengah kehancuran hatinya karena dihina dan direndahkan oleh orang-orang disekitarnya termasuk keLuarga dan sahabat-sahabatnya.
Keyakinan iman itu membangkitkan pengharapan dalam dirinya. Pandangan Yesus dan kesaksian iman Ayub semestinya menuntun kita untuk memiliki iman kepada Allah orang yang hidup dengan tanpa merendahkan dan mematikan yang lain. Beriman kepada Allah orang yang hidup semestinya membuat hidup semakin digerakkan untuk memberitakan tentang Allah orang yang hidup yang membawa pengharapan bukan keputusasaan, membawa kehidupan bukan "mematikan” kehidupan sesama.
Download PDF
GKI Perumnas - Tangerang