Berbahagialah dan Etos Pemuridan
25 Januari 2023
Bila kita membaca sabda bahagia kita akan melihat pertentangan miskin-kaya, lapar-dikenyangkan, berduka - dihibur. maka akan ada pertanyaan nakal haruskah kita menderita sebelum berbahagia ? atau pertanyaan lain, Bagaimana kalau saya belum memenuhi standar karakter tersebut ?
Blaise Pascal di Pensées pernah berkata, "Adalah baik menjadi lelah dan letih ... agar kita dapat membuka tangan kita untuk sang penebus!"
Baginya Tuhan kita menggambarkan pemuridan kita dengan mengingatkan kita tentang perjalanan kesetiaan. Ketika Allah menempatkan kita dalam perjalanan itu, dia menempatkan kita dalam barisan panjang para pahlawan yang telah mendahului kita. “Ingatlah para nabi yang hidup jauh sebelum kamu dan yang juga dianiaya” (ay.11-12, terjemahan saya). Kesadaran akanperjuangan pemuridan itu justru akan memberikan kegembiraan tersendiri bagi kita. Jadi "Bersukacitalah dan bergembiralah" akhirnya menjadi masuk akal.
Dalam prespektif Teologi Matius, . Bagian Khotbah di Bukit ini mengkomunikasikan identitas Yesus dan tujuan pelayanannya untuk setiap Injil. Matius 5:1–12 mencakup pengantar khotbah dan Sabda Bahagia. Dua bagian ini menyampaikan karakter anggota kerajaan dan sifat kewarganegaraan di dalamnya. Maka, bagian-bagian ini memberikan wawasan penting ke dalam pemahaman yang benar tentang kesucian dan persekutuan orang-orang kudus.
Tidak seperti Lukas, di mana Yesus memberikan kumpulan perkataan ini sambil berdiri “di tempat yang datar” (Lukas 6:17), Matius menyuruh Yesus menyampaikan khotbah sambil duduk di atas gunung (5:1). Latarnya mengingatkan kita pada Gunung Sinai, tempat Musa menerima hukum dari Tuhan dan memberikannya kepada orang-orang, dan Gunung Sion, tempat Raja Daud memerintah menurut hukum Tuhan. Postur tubuh Yesus juga mengkomunikasikan otoritas. Dia duduk, seperti guru yang dihormati di antara murid-muridnya atau raja yang sah di antara rakyatnya. Yesus disajikan sebagai otoritas yang tak tertandingi mengenai hukum dan otoritas yang tepat dalam kerajaan surga yang akan datang.
Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menggambarkan sifat kerajaan surga dan karakter kewarganegaraan di dalamnya. Penting untuk diperhatikan bahwa Sabda Bahagia tidak menggunakan imperatif (memberikan komando) , melainkan indikatif (menggambarkan sesuatu). Yesus menyajikan Ucapan Bahagia sebagai fakta sederhana, bukan perintah moral.
Disini pesan indikatif sabda bahagia terlihat, bahwa sabda bahagia adalah sebuah Visi Eskatologi, “Nanti, hal itu akan terjadi !” Kesadaran kita akan mana yang benar dan seharusnya, dan pernyataan Yesus bahwa “Berbahagialah” sedang terjadi (present tense) menjadi pandu bahwa perjalanan menuju Kerajaan Allah yang Berbahagia itu adalah jalan yang sedang kita tempuh !
Download PDF
GKI Perumnas - Tangerang