Doa Bapa Kami
15 Juni 2022
Doa Bapa Kami, sebagai Doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri, terdiri dari 3 Bagian Besar:
-
Pengakuan
Bapa kami yang di sorga; pernyataan ini menunjukkan Allah yang transenden sekaligus imanen ( yang tak terjangkau tetapi juga yang sangat dekat dalam kehidupan kita). Di sini diajarkan kepada siapa kita harus berdoa, yakni hanya kepada Allah, bukan kepada para orang kudus dan malaikat, sebab mereka tidak mengenal kita, tidak layak menerima penghormatan tinggi yang kita berikan melalui doa, dan juga tidak dapat memberikan apa yang kita harapkan. Kita diajarkan bagaimana berperilaku terhadap Allah dan menempatkanNya sebagai Bapa dalam kehidupan kita, yang lebih menggambarkan kebaikan dan kasih daripada kekuasaan yang menakutkan, supaya dengan berani kita dapat menghampiri takhta anugerah.
Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Allah atau bagi kita sendiri selain daripada memanggil-Nya Bapa. Dalam doa-doa-Nya, Kristus menyebut Allah dengan Bapa. Jika Dia adalah Bapa kita, Dia akan berbelas kasihan kepada kita karena kelemahan dan kekurangan kita (Mzm. 103:13), Dia akan melindungi kita (Mal. 3:17), Dia akan membuat pekerjaan kita berhasil sekalipun pekerjaan kita banyak cacatnya, dan Dia tidak akan menahan apa pun yang baik bagi kita (Luk. 11:11-13). Saat kita datang memohon anugerah, damai, dan hak waris serta berkat sebagai anak, sungguh menguatkan bila kita datang kepada Allah bukan sebagai hakim yang belum diperdamaikan, yang membalaskan dendam, melainkan sebagai Bapa yang penuh kasih, murah hati, dan yang telah diperdamaikan melalui Kristus (Yer. 3:4).
Sebagai Bapa kita di sorga: sorga adalah keadaan kemuliaan-Nya yang tiada tertandingi sebab di situlah letak takhta-Nya (Mzm. 103:19). Sebagai Bapa di sorga, Ia bukan saja mampu menolong dan melakukan hal-hal besar bagi kita, lebih dari yang kita minta atau bayangkan, tetapi juga memenuhi semua kebutuhan kita, sebab setiap pemberian yang baik berasal dari atas. Dia seorang Bapa, dan oleh karena itu kita boleh menghampirinya dengan berani, namun Dia juga seorang Bapa sorgawi, dan oleh sebab itu kita harus datang dengan penuh rasa hormat (Pkh. 5:1).
Dikuduskanlah nama-Mu. Dalam Alkitab terjemahan lama diterjemahkan dengan Dimuliakanlah nama-Mu. Melalui kata-kata ini:
-
Kita menyatakan kemuliaan bagi Allah, suatu pemujaan, seperti dalam perkataan TUHAN itu Mahabesar, atau Dimuliakanlah TUHAN, sebab kekudusan Allah adalah kebesaran dan kemuliaan seluruh kesempurnaan-Nya. Kita harus mengawali doa-doa kita dengan memuji Allah.
-
Kita menetapkan tujuan kita. Yang harus kita jadikan sebagai tujuan yang benar, yang utama dan yang tertinggi dalam semua permohonan kita adalah agar Allah dipermuliakan. Semua permintaan kita yang lain haruslah tunduk kepada ketentuan ini dan bersesuaian dengannya. Dalam setiap permohonan kita, hanyalah namaNya yang dipuji dan dipermuliakan. Karena semua hal berasal dari-Nya dan melalui Dia, semuanya juga harus diberikan kepada Dia dan demi Dia (Roma 11:36).
Datanglah Kerajaan-Mu. Permohonan ini jelas berkaitan dengan ajaran yang disampaikan Kristus pada waktu itu, yang sebelumnya pernah dikhotbahkan Yohanes Pembaptis, dan yang kemudian dikhotbahkan para rasul yang diutus oleh-Nya -- Kerajaan Allah sudah dekat. Dr. Whitby, dalam buku ex Vitringa: "Datanglah Kerajaan-Mu, biarlah Injil diberitakan kepada semua orang dan diterima semua orang; biarlah semua orang diajak untuk menerima peneguhan Allah dalam Firman yang diberikan-Nya mengenai Anak-Nya, dan mengakui Dia sebagai Juruselamat dan Penguasa mereka. Biarlah jemaat Injili semakin diperluas, kerajaan dunia diubahkan menjadi Kerajaan Kristus, dan semua orang menjadi warganya, serta menghidupi tabiat yang Injili."
Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Karena itu, setelah berdoa agar Ia memerintah kita, kita berdoa agar dalam segala perkara kita
diperintah oleh-Nya. Perhatikanlah:
-
Hal yang didoakan: jadilah kehendak-Mu. "Tuhan, lakukan apa saja yang menyenangkan hati-Mu terhadap aku dan milikku (1Sam. 3:18). Aku menyerahkan diri kepada-Mu, dan hatiku puas bahwa semua perkataan-Mu tentang diriku akan digenapi." Mengenai hal ini Kristus berdoa, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." "Mampukan aku melakukan hal yang menyukakan hati-Mu. Beri aku anugerah yang diperlukan untuk mengetahui kehendak-Mu dan kerelaan untuk menaatinya. Biarlah kehendak-Mu saja yang sungguh-sungguh terjadi melalui aku dan orang lain, dan bukan kehendak kami, yang adalah kehendak daging atau pikiran. Janganlah kehendak manusia (1Ptr. 4:2), apalagi kehendak Iblis, yang terjadi (Yoh. 8:44), sehingga kami mendukakan Allah dalam segala hal yang kami lakukan -- ut nihil nostrum displiceat Deo, ataupun membenci apa saja yang diperbuat Allah -- ut nihil Dei displiceat nobis."
-
Pola agar kehendak-Nya terjadi, yaitu agar terjadi di bumi, di tempat di mana kita sedang menjalani ujian dan percobaan kita (di mana tugas kita harus diselesaikan, atau tidak akan pernah terselesaikan), seperti di sorga, tempat peristirahatan yang penuh dengan sukacita. Kita berdoa agar bumi bisa menjadi lebih serupa dengan sorga melalui ketaatan pada kehendak Allah karena merajalelanya kehendak Iblis, bumi telah begitu mirip dengan neraka, dan supaya para orang kudus lebih menyerupai malaikat kudus dalam hal pengabdian dan ketaatan. Kita ada di atas bumi, terpujilah Allah, dan belum di bawah bumi. Kita hanya berdoa bagi yang masih hidup, dan bukan bagi orang-orang mati yang turun ke tempat yang sunyi.
-
Permohonan
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Makanan untuk masa mendatang, atau makanan untuk keberadaan dan penyambung hidup kita yang sesuai dengan keadaan kita di dunia (Ams. 30:8), makanan yang menjadi bagian kita dan keluarga kita, sesuai kedudukan dan lingkungan kita. (Gambaran penghidupan kehidupan/Tuhan Memampukan kita hari demi hari)
Di sini, setiap perkataan mengandung pelajaran:
-
Kita meminta makanan kita, yang mengajarkan kita kejujuran dan kerajinan. Kita tidak meminta makanan yang menjadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Ams. 20:17), ataupun makanan kemalasan (Ams. 31:27), melainkan makanan yang diperoleh dengan jujur.
-
Kita meminta makanan secukupnya, yang mengajarkan kita untuk tidak merasa khawatir akan hari besok (ay. 34), tetapi senantiasa mengandalkan pemeliharaan ilahi, seperti mereka yang hidup dari sehari ke sehari.
-
Kita memohon kepada Allah untuk memberikannya dan bukan menjual atau meminjamkannya kepada kita. Orang-orang yang paling hebat pun harus mengandalkan belas kasihan Allah untuk mendapatkan makanan secukupnya.
-
Kita berdoa, "Berikanlah kepada kami, bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada orang lain, sama seperti aku." Hal ini mengajar kita tentang kemurahan hati dan perhatian penuh belas kasihan bagi mereka yang miskin dan melarat. Hal ini juga mengisyaratkan agar kita berdoa bersama keluarga kita. Kita sekeluarga makan bersama, dan oleh karena itu juga perlu berdoa bersama.
-
Kita berdoa agar Allah memberi kita pada hari ini, yang mengajar kita untuk memperbarui kerinduan jiwa kita pada Allah, sama seperti kebutuhan jasmani kita juga diperbarui. Begitu tiba hari yang baru, kita harus berdoa kepada Bapa sorgawi kita, dan berpikir bahwa melewati satu hari tanpa doa, sama saja dengan melewatinya tanpa makanan.
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Melalui pernyataan ini, kita bisa mengerti bahwa hanyalah Bapa dengan anugerahNya yang dapat mengampuni segala dosa kita. Bukan kesalehan kita, amal perbuatan baik kita, ataupun orang-orang yang dianggap suci/kudus. Permohonan ampunilah mengisyaratkan bahwa kecuali dosa-dosa kita diampuni, kita tidak akan dapat menjalani kehidupan seperti yang telah kita sebutkan dalam doa ini(mempermuliakan Allah, menghadirkan kerajaan dan kehendakNya dan merasakan pemeliharaan Allah). Permohonan ini disertai dengan tekad untuk juga meneruskan anugerah itu kepada sesama dengan “seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 7:12). Rasa syukur atas limpahan anugerah penebusan dari Allah dinyatakan dalam kehidupan dengan sesama yang penuh dengan kasih pengampunan. Tabiat mengampuni ini merupakan suatu kesempurnaan yang sangat menonjol dan sangat mendalam yang ada dalam diri Allah. Dengan membentuk kesediaan mengampuni dalam diri kita, ini menjadi bukti bahwa pengampunan Allah berlaku dan meresap dalam kehidupan kita. Tekad “seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” menjadi perhatian penting dalam pengajaran Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus mengakhiri rangkaian Doa Bapa Kami ini, 2 ayat berikutnya (Matius 6:14-15) masih menjelaskan perihal mengampuni ini Karena perihal mengampuni sesama merupakan hal baru bagi orang-orang Yahudi. Perhatikanlah, orang-orang yang menerima belas kasihan Allah harus menunjukkan belas kasihan juga kepada saudara mereka. Kita juga tidak dapat berharap Ia akan mengulurkan tangan kemurahan-Nya kepada kita, kecuali kita menadahkan tangan yang suci, tanpa marah (1Tim. 2:8). Jika kita berdoa dalam kemarahan, sudah sepantasnya kita takut Allah juga akan menjawab dalam kemarahan. Apa alasan Allah membebaskan kita dari utang kita sebesar sepuluh ribu talenta pada-Nya, jika kita tidak mau membebaskan saudara kita dari utangnya sebesar seratus dinar kepada kita?(Matius 18:23-35) Kristus datang ke dunia sebagai Pendamai yang agung, bukan untuk memperdamaikan kita dengan Allah saja, melainkan juga satu dengan yang lain.
“Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,..”permohonan ini diungkapkan,agar tidak pernah kembali melakukan kebodohan, supaya kita jangan tergoda lagi melakukan dosa. Ini bukan berarti seolah-olah Allah mencobai orang untuk berbuat dosa, tetapi sebuah penyerahan diri dan permohonan kekuatan dari Tuhan agar dapat melawan pencobaan, baik karena ketidaknyamanan maupun masalah yang bisa ditimbulkannya, dan bahaya yang mengancam kita jika dikuasai olehnya, maupun karena rasa bersalah dan dukacita yang mengikutinya.
“Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” Mewaspadai dari kejahatan…..yakni dosa, yang dibenci Allah dan yang digunakan Iblis untuk mencobai dan membinasakan manusia. Hanya kuat kuasa Allah yang mampu untuk melakukannya. Kuat kuasaNya yang diberikan kepada setiap anak-anakNya yaitu orang yang percaya kepadaNya (Yoh 1:12)
-
Pengharapan
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
-
"Engkaulah yang empunya Kerajaan, Engkaulah yang memiliki pemerintahan atas dunia dan perlindungan atas orang-orang kudus, kehendak-Mu mengendalikannya." Allah memberi dan menyelamatkan seperti layaknya seorang raja. "Engkaulah yang empunya kuasa, untuk memelihara dan menopang kerajaan itu dan memperbaiki hubungan dengan umat-Mu." Engkaulah yang empunya kemuliaan, yang menjadi tujuan dari semua jawaban doa yang diberikan kepada dan dilakukan untuk orang-orang kudus; karena bagi-Nyalah puji-pujian mereka. Ini berbicara tentang penghiburan dan keyakinan kudus dalam doa.
-
Ini adalah suatu bentuk pujian dan pengucapan syukur. Kita memuji Allah dan memuliakan-Nya, bukan karena Ia membutuhkannya -- Dia dipuji-puji oleh beribu-ribu malaikat -- melainkan karena Dia memang layak menerimanya. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyatakan kemuliaanNya, karena ini sesuai dengan tujuan rancangan-Nya dalam menyatakan diri-Nya kepada kita. Amatilah, betapa lengkapnya puji-pujian kepada Allah ini, Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan, semuanya Engkaulah yang empunya. Perhatikanlah, sudah seharusnyalah kita memuji Allah dengan berlimpah. Memberikan kemuliaan bagi Allah sampai selama-lamanya mengisyaratkan pengakuan kita terhadap Dia, yang berlaku untuk seterusnya, dan kita harus memiliki keinginan sungguh untuk melakukannya selama-lamanya, bersama para malaikat dan orang kudus di sorga (Mzm. 71:14).
-
Terakhir, untuk semuanya ini kita diajar untuk membubuhkan kata Amin pada akhir doa, yang artinya "demikianlah adanya." Kita berkata Amin sebagai tanda kesungguhan dan kebenaran atas setiap perkataan yang kita ucapkan dan dengan tulus, bersemangat, keluar dari hati, yang menaruhkan semuanya dalam kehendak dan rencana Allah.
Download PDF
GKI Perumnas - Tangerang